Ketika Sastrawan Dihamili Ronggeng

Ahmad Tohari dan Panitia Bulan Bahasa Diksastrasia Universitas Siliwangi

Ahmad Tohari dan Panitia Bulan Bahasa Diksastrasia Universitas Siliwangi

Ternyata kehamilan bukan hanya milik kaum hawa, laki-laki pun bisa mengalaminya, setidaknya itulah yang dirasakan oleh seorang pengarang Novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, Ahmad Tohari. Dia memaparkan hal itu pada seminar “Pembelajaran Sastra”  di HMPS Diksatrasia Universitas Siliwangi Tasikmalaya.

Siapa sangka seorang sastrawan sekaliberAhmad Tohari (AT) sebenarnya tidak bercita-cita menjadi pengarang, namun itulah yang terjadi. Apalagi jurusan yang AT ambil sejak sekolah menengah adalah jurusan “serius” yang katanya membuat orang menjadi pribadi yang kaku dan tidak peka terhadap perilaku sosial, menjadi “autis” yang hanya peduli pada bidang yang digaulinya, yakni ilmu pasti dan ilmu alam. Apalagi selepas SMA, AT melanjutkan ke Fakultas Kedokteran meskipun akhirnya harus rela mengundurkan diri karena persoalan biaya.

Namun itulah AT yang banyak melahirkan karya sastra, diantaranya Novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk ( RDP) yang terdiri dari Ronggeng Dukuh Paruk: Catatan Buat Emak (1982), Lintang Kemukus Dinihari (1985) serta Jantera Bianglala (1986), yang mengisahkan tentang potret kehidupan rakyat jelata dan berusaha membangun kembali identitasnya setelah “bangkrut” akibat keracunan tempe bongkrek, hingga akhirnya menjadi korban dari pertikaian politik yang menyusup hingga ke desa-desa pada tahun 1965.

RDP sebagai masterpiece AT yang telah dicetak ke dalam Bahasa Jawa serta lima bahasa asing (Jerman, Inggris, Belanda, Cina, Jepang) dan ditulis selama lima tahun serta sebelumnya telah mengusik pikiran Sang Ramane Srintil selama lima belas tahun, banyak menuai tanggapan dari para pembaca. Tanggapan paling banyak dalam hal bahasa, mereka mengatakan sulit memahami bahasa RDP yang banyak menggunakan bahasa dan kosakata daerah. Sebaliknya banyak pula yang berpendapat kekuatan bahasa RDP tidak tertandingi. Sebuah tanggapan yang kontradiktif dari pembaca yang sama-sama mengagumi karya agung dari AT. Tidak hanya tanggapan dan pujian, RDP pun sempat dikritik oleh Sapardi Djoko Damono seputar tembang Dhangdhanggula yang kurang tepat dia kutip sebagai lagu anak-anak Dukuh Paruk. Atau kritik yang dilontarkan oleh F. Rahardi tentang Cacat Latar yang Fatal (Horison 1/1984) mengenai deskripsi alam pedesaan dengan lingkungan flora serta perilaku fauna.

AT mengakui telah melakukan beberapa kekeliruan menyangkut bidang Biologi, kendati demikian AT tidak melakukan perbaikan hingga edisi terakhir dengan alasan menjaga konsistensi serta otentitas Novel RDP, dan diakuinya itu adalah bagian retak dari sepotong gading. Lebih lanjut Ahmad Tohari dalam Majalah Horison Edisi Maret 1984 mengatakan, “Sebab dalam fiksi bagaimanapun juga pesan sastralah yang terpenting, tanpa mengurangi kedudukan terhormat kebenaran ilmiah di dalamnya, dan tanpa mengingkari nilai ideal bahwa sebuah karya fiksi menjadi lebih baik bila tidak disertai kesalahan-kesalahan ilmiah.”.

Seiring kesuksesan novelnya, banyak pula pertanyaan-pertanyaan seputar maksud dan tujuan AT menulis RDP. Sebab kala itu menulis yang berkenaan dengan partai komunis walau bukan bagian utama dari cerita adalah hal yang sulit dilakukan, penulis harus berhadapan dengan pemerintah maupun militer dan siap untuk diinterogasi bahkan mungkin harus mendekam di penjara. AT pun mengalami hal itu meskipun hanya sebatas diberondong berbagai pertanyaan dan dicurigai sebagai anggota partai yang tersisa, padahal AT adalah santri dan pengasuh Pesantren Al Falah peninggalan orang tuanya di desa kelahirannya, Desa Tinggarjaya, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah.

Untuk melayani pertanyaan para peneliti dan mahasiswa, AT  sering mengatakan bahwa RDP ditulis atas nama pertanggungjawaban moral sebagai pengarang terhadap tragedi kemanusian pada tahun 1965. Kesaksian dan pewartaan atas nama kemanusiaan yang sampai awal tahun delapan puluhan belum ada laporan yang memadai tentang tragedi yang menelan korban ratusan ribu manusia. Meskipun sebetulnya Novel Kubah yang AT tulis sebelumnya bercerita juga tentang partai komunis dan merupakan novel pertama yang mewartakan hal itu. Namun AT merasa tidak puas pada Novel Kubah  yang bercerita tentang seorang lelaki komunis yang pulang dari Pulau Buru. Apalagi ketika Gus Dur bilang bahwa novelnya tidak punya kelebihan yang menonjol, tidak ada ketegangan, alur cerita mudah ditebak, hitam putih dan lain sebagainya. Saat itu Gus Dur masih menganggap AT sebagai penulis pemula dan mengatakan bahwa bila digarap lebih baik akan menjadi novel bagus dan menjadi karya besar. Kritik Gus Dur sangat berpengaruh pada karya-karya berikutnya, AT menjadikan kritik itu sebagai pedoman untuk melahirkan karya yang lebih baik.

Jika untuk melayani pertanyaan para akademisi tentang maksud dan tujuan RDP ditulis, AT begitu lugasnya menjawab, namun tidak demikian jika pertanyaan itu datang dari batinnya sendiri. AT merasa jiwanya sudah dihamili oleh situasi dan kondisi pada jamannya, ketika dia sangat akrab dengan lingkungan pedesaan yang miskin beserta tingkah laku fauna yang terkadang menyimpang dari kebiasaan, seperti capung yang hinggap di tanah atau kelelawar yang makan daun waru. Budaya daerah yang penuh dengan hal mistik dia akrabi juga walau tidak terlibat dalam ritualnya, tentang kesenian ronggeng yang menjadi identitas pedukuhan dan dijadikan duta budaya tanpa mengindahkan moralitas. Lalu tentang tragedi kemanusian yang dia saksikan sendiri, pemburuan dan pembunuhan terhadap anggota partai komunis tanpa ada proses pengadilan, dan orang-orang yang tidak tahu menahu tentang politik pun ikut terbantai hanya karena diketahui ikut dalam kegiatan underbow partai komunis. Kekejaman itu AT saksikan secara langsung, seperti ketika dia melihat seorang pedagang kambing yang sudah terikat tangannya ke belakang dipukuli massa sambil digiring ke tempat eksekusi, yaitu sebuah lubang yang sengaja disediakan. Tertuduh berdiri membelakangi lubang kemudian ditembak kedua sikutnya hingga lepas, lalu giliran kedua daun telinga dan akhirnya diberondong oleh empat penembak dengan memuntahkan semua sisa peluru yang ada. Tertuduh jatuh ke lubang dengan tubuh yang hancur dan untuk beberapa hari ke depan mayat itu masih bisa terlihat, karena tidak boleh langsung dikuburkan. Kejadian itu AT saksikan berulang kali, karena jika ada lubang yang digali pasti akan ada yang dieksekusi, dengan kronologis yang hampir serupa, dianiaya dulu lalu dibunuh.

Rentetan kejadian yang dialami, dirasakan dan yang dilihat dari keindahan panorama, tembang-tembang pedesaan, liukan tubuh para penari serta kejadian-kejadian pilu seputar kemiskinan, kebodohan, ritual-ritual dan budaya lokal yang berbenturan dengan ajaran agama, juga tragedi kemanusian yang merenggut banyak nyawa adalah benih yang bersemayam pada jiwa kesastrawanannya. AT merasa dihamili oleh pengalaman nyata dan kelahiran sesuatu yang dikandungnya adalah hal yang harus terjadi. Itulah jawaban sebenarnya atas pertanyaan apa yang menjadi motivasi AT dalam menulis RDP, setidaknya AT merasa terwakili dengan jawaban bahwa dia melahirkan karya sastra karena jiwanya hamil sastra. Maka ketika kehamilan semakin membesar yang artinya ilham dalam hal ini kehidupan ronggeng dengan segala permasalahannya semakin kuat dan mengusik jiwa. Lalu menuntut perhatian serta pengembangan yang pada gilirannya mendesak-desak menuntut dilahirkan. Akhirnya terbit RDP dengan Srintil yang harus menjalani “takdir” sebagai ronggeng yang semula dihayatinya dengan tulus namun kemudian menjadi “profesi” yang berusaha dilepaskan, sebab kodratnya sebagai wanita dirampas demi jati diri pedukuhan. Kemudian penolakan Rasus terhadap tradisi yang hanya bisa dilakukan dengan cara meninggalkan kampung halaman. Lalu hegemoni laki-laki yang digambarkan pada sosok Bakar dengan agitasinya serta Marsusi dengan jabatan dan intelektualitasnya namun tidak bisa meninggalkan hal-hal yang berbau mistik.

Meskipun RDP lahir berdasarkan pengalaman pengarang, namun novel ini adalah sebuah karya sastra fiksi yang kadang kala menjebak pembaca pada fakta yang tergambar sangat nyata, seperti keterlibatan partai komunis melalui organisasi sayapnya yang selalu mengincar massa pada tingkatan masyarakat bawah. Kemudian budaya bertayub dengan ronggeng atau penari yang hingga kini masih hidup bahkan dilestarikan, meskipun tidak se”vulgar” pada masa silam. Lalu praktek perdukunan serta “menziarahi” makam keramat yang disertai ritual-ritual dan meminta “berkah” yang sampai saat ini masih digemari masyarakat dan pejabat-pejabat tertentu.

Disinilah AT menggunakan ruang untuk berdakwah secara kultural seperti tergambar pada sosok Rasus yang meninggalkan kampungnya demi ketidaksetujuan pada tradisi yang mengakar kuat. Terutama pada tradisi upacara bukak klambu yang mencampakkan nilai kemanusiaan seorang ronggeng, dimana setelah upacara selesai dia resmi menjadi ronggeng dan tidak lagi memiliki haknya sebagai perempuan somahan. Tugasnya hanyalah nembang, menari dan melayani laki-laki dengan nilai materi yang ditentukan dalam waktu yang dibatasi. Sepertinya dalam hal ini pengarang merasa kesantriannya terpanggil dan “merasuk” dalam sosok Rasus. Dakwah kultural berikutnya adalah mitos tentang leluhur dan makam keramat, pengarang mematahkan kepercayaan warga pedukuhan yang mengkultuskan arwah leluhur sebagai pelindung bagi keturunan dan pedukuhannya serta sesajen juga ritual yang rutin diberikan dan dilakukan sama sekali tidak membentengi Dukuh Paruk dari “invasi militer”, ketika kesenian ronggeng diketahui sebagai “Kesenian Rakyat”. Indang yang merasuk pada diri Srintil pun ikut surut seiring turunnya semangat sang ronggeng. Jadi indang bisa dikatakan bukan ruh yang merasuk pada diri ronggeng, tapi indang adalah bakat, kemampuan serta semangat membara ketika seorang ronggeng dengan tulus menjalani profesinya.

Selain dakwah kultural, pada RDP pun sarat dengan religiositas sastra. Seperti deskripsi alam pedesaan dengan desau anginnya, fauna dengan segala upayanya mencari air, rumput, atau bahkan saling memangsa adalah  deskripsi realis yang dituturkan secara apik dan membawa pembaca pada latar alam pedesaan yang sesungguhnya. Serasa hidup dan nyata didepan mata. Bukan hanya pemanis AT melukiskan alam pedesaan yang ternyata tidak semuanya berfungsi sebagai metafora untuk mendukung jalan cerita. Apalagi deskripsi seperti ini ibarat prolog untuk setiap bab, namun bagi pengarang untaian kata itu adalah tasbih yang dialamatkan pada sang pencipta, mengajak pembaca bersyukur dan mengingat kebenaran sabda yang mengatakan:Tiadalah sesuatu tercipta kecuali ada peran yang dijalankan pada diri ciptaanNya.

Religiositas juga terasa ketika pengarang mengajak pembaca menelusuri wilayah-wilayah masyarakat jelata, mendengungkan nyanyian-nyanyian pilu tentang perjuangan hidup yang tiada henti, mempertahankan eksistensi bahwa mereka adalah bagian dari alam dan berhak mendapatkan kedamaian yang alam berikan tanpa terkecuali. AT merasa bahwa setiap menulis, dirinya selalu tergiring ke dunia miskin dan mewartakan berbagai persoalan yang membelit mereka. Para agamawan mengatakan bahwa itu adalah religiositas yang alami, sehingga menjadikan AT merasa lebih khusyuk dalam berkarya, karena napas-napas mereka sangat terasa untuk dijadikan bahan penulisan yang tiada habisnya. Maka tema-tema masyarakat jelata sangat dominan dalam karya-karya AT berikutnya.

Novel Trilogi RDP sebagai tonggak keberhasilan AT melambungkan namanya ke puncak popularitas sebagai sastrawan Indonesia yang namanya bisa disejajarkan dengan sastrawan-sastrawan terkemuka seperti: Umar Kayam, Putu Wijaya, Gerson Poyk dan lain-lain. Di dalam prosa AT sangat mengagumi gaya bahasa Mochtar Lubis, Hamka dan Johan Steinbeck, sehingga karya-karya mereka punya andil dalam membentuk kepengarangan dirinya. Karya AT memiliki kehalusan syair seperti Amir Hamzah serta kecanggihan kalimat seperti Ranggawarsita yang terkenal dengan Serat Kalatidha dan Jaka Lodang-nya. Pengaruh Ranggawarsita sangat terlihat pada judul novel triloginya, Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dinihari dan Jantera Bianglala. Kecanggihan AT dalam memilih kata untuk judul membuat calon pembaca terangsang untuk mendalami diksi dan isi yang terkandung dalam novel tersebut.

Sebagai novel yang laris, buku pertama trilogi pernah diangkat ke layar lebar dengan judul Darah dan Mahkota Ronggeng (1983), meskipun film ini kurang berhasil namun secara tidak langsung RDP telah dipromosikan sehingga buku kedua dan ketiga mudah diterima oleh masyarakat. Kemudian pada November 2011 RDP yang telah dibukukan dalam satu jilid dan bagian yang dulu disensor telah disertakan di dalamnya, kembali diangkat ke layar lebar dengan judul Sang Penari. Berbeda dengan film sebelumnya yang sempat mengecewakan pembaca dan pengarangnya, pada film Sang Penari AT kelihatan puas seperti yang terlontar pada komentarnya,”Dramatisasi film ini lebih berani dari novel saya. Ini akan jadi dokumentasi visual penting jaman itu, saya menangis. Saya datang sebagai penonton dan saya terhanyut”. Kepuasan AT terhadap film ini beralasan karena ternyata Sang Penari berhasil meraih empat Piala Citra di FFI 2011, sebagai Film Terbaik, Sutradara Terbaik, Aktris Terbaik dan Aktris Pendukung Terbaik, serta menorehkan prestasi sebagai film yang berhasil mendapatkan Piala Citra terbanyak tahun 2011. Namun berbeda dengan novelnya yang open ending, pada film Sang Penari terlihat akhir cerita yang jelas, sutradara menutup kisah dengan kebahagiaan Srintil dalam sebuah kesederhanaan sebagai ronggeng yang mencari nafkah dengan cara mengamen.

Sebagian besar novel karya AT selalu open ending, termasuk RDP yang diakhiri dengan cerita yang menggantung dan menyerahkan akhir kisah pada pembaca untuk berpikir dan membayangkan sendiri apa yang terjadi selanjutnya. Menurut AT ini adalah semacam eksperimen demokratisasi antara pengarang dan pembaca, apakah eksperimen ini berhasil atau tidak, itu urusan lain. Namun apakah ini juga sebuah ketakutan pengarang dalam mengakhiri kisahnya yang mengkhawatirkan para pembaca kecewa dengan akhir cerita yang tidak sesuai dengan harapan, sehingga pembaca digiring pada wilayah abu-abu, wilayah gradasi antara hitam dan putih. Atau malah ini adalah strategi pengarang dalam membuka ruang untuk memungkinkan melanjutkan cerita dalam novel selanjutnya. Hal itu bisa saja terjadi apalagi pada tahun 1987 almarhum HB Jassin sengaja menemui AT dan menganjurkan RDP menjadi tetralogi, dengan menyoroti kehidupan Goder sebagai anak angkat Srintil. Apakah RDP akan menjadi tetralogi dan jika ternyata novel keempat itu terbit, akankah sesukses novel-novel sebelumnya? Kita tunggu saja!(*)(Bungawari/Majalah Serapo, Edisi III 2013).

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s