Prasasti Batutulis Peninggalan Kerajaan Pajajaran

Prasasti Batutulis Bogor

Prasasti Batutulis Bogor

Tatar Sunda atau Jawa Barat termasuk Banten adalah daerah yang banyak menyimpan artefak dari peninggalan Kerajaan Salakanagara, Tarumanagara, Sunda serta Galuh. Artefak atau benda peninggalan sejarah banyak disimpan di museum atau ada juga yang masih tetap berada di mana artefak itu ditemukan. Salah satu artefak yang tetap dipertahankan di tempatnya adalah Prasasti Batutulis, artefak peninggalan Kerajaan Pajajaran ini berada di Komplek Peninggalan Purbakala Nasional, Prasasti Batutulis Bogor, Jl Batutulis No 54 Bogor.
Bogor sebagai gerbang ibukota dan kota terbesar ketiga di Jawa Barat setelah Bandung dan Cirebon tentu menyimpan persoalan yang sama dengan kota-kota lain, yaitu keramaian yang berimbas pada kemacetan, kehirukpikukan juga kesemrawutan. Keramaian itu semakin menjadi ketika tahun 2002 Menteri Agama pada era Kabinet Gotong Royong membuat kehebohandengan menginstruksikan penggalian di komplek Prasasti Batutulis. Ia mendapat informasi dari paranormal bahwa di tempat itu terdapat harta karun berupa emas peninggalan zaman Prabu Siliwangi. Protes dari kalangan arkeolog tidak ditanggapi, masyarakat ramai berdemo menyatakan ketidaksetujuan namun mentri pun tidak bergeming. Penggalian dilakukan selama dua minggu dan kenyataannya harta karun yang diyakini oleh menteri tersebut dapat membayar seluruh hutang negara tidak ditemukan, maka proyek kontroversial pun dihentikan dengan meninggalkan jejak galian tanah sepanjang 5m, lebar 1m, dan kedalaman 2m. Sebenarnya harta karun sudah tampak di depan mata yakni Prasasti Batutulis itu sendiri sebagai peninggalan budaya yang tidak ternilai serta menjadi bukti sejarah yang sangat berharga untuk penelusuran masa silam. Sehingga secara tidak langsung dari prasasti inilah masyarakat Bogor bisa menentukan hari jadi kotanya yaitu 3 Juni 1482 Masehi. Prasasti Batutulis adalah bukti di mana Bogor sudah mempunyai tatanan pemerintahan sejak abad ke 15 bahkan jika ditilik dari prasasti dan sumber lain, Bogor adalah pusat peradaban yang sangat tua di wilayah barat Pulau Jawa.
Komplek Prasasti Batutulis dengan luas 225 meter persegi ini tidak hanya menyimpan prasasti yang berukuran tinggi 151cm, lebar dasar 145 cm dan ketebalan 12 cm, namun ada lima batu lagi dengan ukuran yang lebih kecil yang berfungsi sebagai pelengkap atau penunjang sebagai tujuan utama dibuatnya prasasti oleh sang raja. Salah satunya adalah lingga yaitu batu panjang yang dipancang tegak, biasanya bermakna kebenaran sejati atau jalan lurus. Satu lagi yang tidak kalah penting yaitu batu yang berfungsi sebagai sandaran para raja ketika dinobatkan, namun sayang pasangan batu ini yang bernama Batu Gigilang tempat penobatan raja telah dirampas oleh prajurit Banten ketika memporakporandakan Kerajaan Pajajaran dan kini berada di depan Mesjid Agung Banten. Semua artefak ini berada di dalam bangunan yang berukuran 25 meter persegi, sedangkan yang diluar bangunan ada beberapa batu tegak yang fungsinya sebagai tiang penambat kuda.
Prasasti Batutulis beraksara dan berbahasa sunda kuno termasuk prasasti sakakala atau prasasti yang dibuat atas perintah raja untuk memperingati sebuah kejadian yang telah berlangsung. Berbeda dengan prasasti piteket yang dibuat atas perintah raja juga, namun berisi sebuah peraturan atau keputusan. Jadi prasasti piteket adalah prasasti yang dibuat pada saat kejadian berlangsung. Contoh prasasti piteket adalah Prasasti Sanghyang Tapak yang dikeluarkan pada masa Sri Jayabhupati, Raja Kerajaan Sunda tahun 1030-1042 Masehi. Isi prasasti hanya menyebutkan larangan menangkap ikan pada bagian Sungai Cicatih yang termasuk kawasan Kabuyutan Sanghiyang Tapak. Walaupun demikian dua-duanya mempunyai nilai yang sama sebagai sumber sejarah primer.
Mengenai Prasasti Batutulis sebagai sakakala adalah peringatan yang dibuat oleh Prabu Surawisesa ketika memerintah Kerajaan Sunda pada tahun 1521-1535 Masehi, terhadap mendiang ayahnya yakni Sri Baduga Maharaja setelah 12 tahun meninggal, sekaligus melaksanakan upacara srada yaitu upacara penyempurnaan arwah leluhur. Upacara ini biasanya digelar bagi mendiang raja-raja yang selalu dikenang oleh rakyatnya, dengan upacara itu sukma orang yang meninggal dianggap telah lepas hubungannya dengan dunia materi. Prasasti ini dibuat pada tahun 1533 Masehi sebagai rasa hormat seorang anak terhadap ayahnya sebagai raja besar yang memerintah Kerajaan Sunda pada tahun 1482-1521Masehi yang meninggalkan beberapa karya seperti membuat susukan atau parit sebagai pertahanan, membuat tanda peringatan berupa gunung-gunungan yaitu tempat upacara dan menyemayamkan abu jenazah raja-raja, ngabalay atau memperkeras jalan dengan batuan, membuat hutan samida atau hutan lindung dan yang terakhir membuat talaga atau danau yang diberi nama Sanghyang Talaga Rena Mahawijaya. Prasasti ini juga bercerita tentang penobatan dan silsilah Sri Baduga Maharaja, sebagaimana yang tersurat pada Prasasti Batutulis:
Wangna pun ini sakakala, prebu ratu purane pun, diwastu
diya wingaran prebu guru dewataprana diwastu diya wingaran sri
baduga maharaja ratu haji di pakwan pajajaran sri sang ratu de
wata pun ya nu nyusuk na pakwan diya anak rahyang dewa nis
kala sa(ng) sida mokta di gunatiga i(n) cu rahyang niskala wastu
ka(n) cana sa(ng) sida mokta ka nusalarang, ya siya ni nyiyan saka
kala gugunungan ngabalay nyiyan samida, nyiyan sa(ng)hyang talaga
rena mahawijaya, ya siya, o o i saka, panca panda
wa e(m)ban bumi 00.
Artinya : Semoga selamat, ini tanda peringatan (untuk) mendiang prabu ratu. Dia dinobatkan dengan gelar Prabu Guru Dewataprana, dinobatkan (lagi) dia dengan gelar Sri Baduga Maharaja ratu penguasa di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata. Dialah yang membuat parit (pertahanan) di Pakuan. Dia putera Rahiyang Dewa Niskala yang dipusarakan di Gunatiga, cucu Rahyang Niskala Wastu Kencana yang dipusarakan ke Nusa Larang. Dialah yang membuat tanda peringatan berupa gunung-gunungan, mengeraskan jalan dengan batu, membuat (hutan) Samida, membuat Sanghyang Telaga Rena Mahawijaya. Ya dialah (yang membuat semua itu) dalam (tahun) Saka 1455.
Dari prasasti ini pula diketahui bahwa Prabu Surawisesa tidak menyebut Sri Baduga Maharaja bertahta di Kawali, namun menyebut pakwan (pakuan) pajajaran, yang berarti sejak pemerintahan Sri Baduga Maharaja ibukota berpindah ke Pakuan Pajajaran (Bogor). Diperkirakan dari prasasti ini pula sejak Sri Baduga Maharaja bertahta, Kerajaan Sunda sering disebut Pajajaran hal ini mungkin ada sebuah kejenuhan pada masyarakat sunda yang sering dipusingkan oleh dua nama kerajaan yaitu Kerajaan Sunda yang beribukota Pakuan dan Kerajaan Galuh yang beribukota di Kawali yang pada hakikatnya adalah sama. Dua kerajaan sederajat dari leluhur yang sama dan sering diperintah oleh raja yang sama pula, walaupun beberapa kali punya raja yang berbeda. Sejak jaman Sri Baduga Maharaja-lah kerajaan ini tetap bersatu sampai lima raja berikutnya.
Berita mengenai dipakainya nama Pajajaran sebagai nama kerajaan sebetulnya sudah berlangsung sejak pemerintahan Prabu Susuktunggal. Sri Baduga Maharaja yang menurut sebagian tradisi lisan adalah Prabu Siliwangi memerintah Pajajaran karena sebagai pewaris tahta Kerajaan Galuh dan Kerajaan Sunda. Sri Baduga Maharaja adalah putra dari Prabu Dewa Niskala, Raja Galuh yang bertahta di Keraton Surawisesa (Kawali Ciamis). Sedangkan Susuktunggal adalah Raja Sunda yang memerintah di Pakuan Pajajaran (Bogor) dan menikahkan putri bungsunya yaitu Kentring Manik Mayang Sunda dengan Sri Baduga Maharaja. Prabu Dewa Niskala dan Prabu Susuktunggal adalah putra dari Mahaprabu Niskala Wastu Kancana dari ibu yang berbeda. Karena keduanya berselisih maka para pembesar Kerajaan Sunda dan Galuh menyarankan keduanya turun tahta dan sebagai gantinya Sri Baduga Maharaja menjadi penguasa Sunda Galuh. Sejak saat itu Kerajaan Sunda-Galuh dipersatukan lagi di bawah pemerintahan Sri Baduga Maharaja dan konon kerajaan itu di tatar sunda lebih akrab disebut Kerajaan Pajajaran. Meski demikian di luar tatar sunda, kerajaan ini tetap dikenal sebagai Kerajaan Sunda, seperti yang dicatat oleh Tom Pires juru catat perjalanan kapal dagang Portugis. Dalam catatannya pada tahun 1513 Masehi Tom Pires mengatakan “The Kingdom Of Sunda is justtly governed” (Kerajaan Sunda diperintah dengan adil).
Pada masa itulah Sri Baduga Maharaja membawa Pajajaran pada puncak kejayaan. Tidak tercatat adanya peperangan, rakyat diberikan kebebasan memeluk agamanya masing-masing, hubungan dagang dengan Portugis berjalan lancar sehingga taraf hidup rakyat meningkat. Jaman keemasan Pajajaran tidak berlanjut saat Prabu Surawisesa naik tahta menggantikan ayahnya yang wafat pada tahun 1521dan dipusarakan di Rancamaya. Wilayah Pajajaran di bagian timur yaitu Kerajaan Cirebon yang didirikan oleh Cakrabuana putra Sri Baduga Maharaja dari istrinya yang kedua semakin kuat dan memisahkan diri dari pemerintahan pusat. Secara perlahan wilayah-wilayah didekatnya ditundukan seperti Kerajaan Talaga, Sindangkasih, Sumedanglarang bahkan Galuh, di sebelah barat, Banten pun bergabung dengan Cirebon. Bala tentara Cirebon pada intinya relatif lemah namun karena bersekutu dengan Demak dimana pasukan perangnya telah dilengkapi dengan meriam maka secara perlahan wilayah-wilayah Pajajaran dikuasainya. Prabu Surawisesa sebagai penguasa pusat yang berkedudukan di Pakuan berusaha untuk mempertahankan keutuhan wilayahnya namun perang limabelas kali selama lima tahun dengan Cirebon tidak membuahkan hasil apa-apa. Dalam naskah kuno Carita Parahiyangan Prabu Surawisesa dipuji dengan sebutan kasuran (perwira), kadiran (perkasa) dan kuwamen (pemberani) seperti yang dituturkan dalam naskah tersebut, sebagai berikut:
Disilihan inya ku Prebu Surawisésa, inya nu surup ka Padaré n, kasuran, kadiran,
kuwamén.
Prangrang limawelas kali hanteu éléh, ngalakukeun bala sariwu.
Prangrang ka Kalapa deung Aria Burah. Prangrang ka Tanjung. Prangrang ka Ancol
kiyi. Prangrang ka Wahanten girang. Prangrang ka Simpang. Prangrang ka Gunungbatu.
Prangrang ka Saungagung. Prangrang ka Rumbut. Prangrang ka Gunung. Prangrang ka
Gunung Banjar. Prangrang ka Padang. Prangrang ka Panggoakan. Prangrang ka
Muntur. Prang rang ka Hanum. Prangrang ka Pagerwesi. Prangrang ka
Medangkahiyangan.
Ti inya nu pulang ka Pakwan deui. hanteu nu nahunan deui, panteg hanca di bwana.
Lawasniya ratu opatwelas tahun.
Artinya : Diganti (Sri Baduga Maharaja) oleh Prabu Surawisesa yang dipulasarakan di Padaren, Ratu gagah perkasa, teguh dan pemberani. Perang limabelas kali tidak kalah. Dalam menjalankan peperangan dia membawa pasukan sebanyak seribu jiwa. Perang ke Kalapa dengan Aria Burah. Perang ke Tanjung. Perang ke Ancol kiyi. Perang ke Wahanten Girang. Perang ke Simpang. Perang ke Gunungbatu. Perang ke Saungagung. Perang ke Rumbut. Perang ke Gunungbanjar. Perang ke Padang. Perang ke Pagoakan. Perang ke Muntur. Perang ke Hanum. Perang ke Pagerwesi. Perang ke Madangkahiangan.
Kemudian kembali ke Pakuan. Dan tidak lama kemudia (Surawisesa) wafat. Lamanya menjadi raja empatbelas tahun.
Karena perang tidak kunjung selesai dan separuh wilayah Pajajaran sudah bergabung dengan Cirebon maka untuk mempertahankan daerah pusat, Prabu Surawisesa dengan pihak Cirebon mengambil jalan terbaik dengan berdamai dan mengakui kedudukan masing-masing sebagai kerajaan yang merdeka. Dengan perjanjian damai itu Prabu Surawisesa berusaha menata kembali kerajaannya dengan memadamkan beberapa pemberontakan. Kemudian merenungkan dan membandingkan situasi yang terjadi pada masa pemerintahannya dengan Pajajaran ketika dipimpin oleh ayahnya. Kebesaran ayahnya sangat tampak jika dibandingkan dengan dirinya, wilayah yang luas tidak sanggup dia pertahankan. Jalur pantai utara dengan pelabuhan Cirebon, Banten serta Sunda Kelapa yang sempat memberikan kekayaan lewat kapal-kapal niaga yang berlabuh, serta menjadi lalu lintas perdagangan rempah-rempah dari pedalaman tidak lagi menjadi wilayahnya. Kemakmuran, kesejahteraan dan keamanan saat itu menjadi ciri dari Kerajaan Pajajaran.
Dalam perenungannya Prabu Surawisesa mengenang kebesaran ayahnya, dia mengakui tidak dapat mempertahankan negara yang diamanatkan kepadanya. Oleh karena itu untuk menunjukkan rasa hormat dirinya serta mengenang jasa-jasa ayahnya yang telah membuat beberapa karya, pada tahun 1533 Masehi tepat duabelas tahun setelah Sri Baduga Maharaja wafat maka dibuatlah sasakala atau tanda peringatan yang kini disebut Prasasti Batu Tulis. Di prasasti itu ditampilkan gelar ayahnya serta karya-karya yang telah dihasilkan, kemudian prasasti itu diletakkan di Kabuyutan (kabarataan) yakni tempat suci dan tempat peribadatan serta pusat ilmu pengetahuan. Prabu Surawisesa sendiri tidak menampilkan namanya pada prasasti, dia hanya menanam lingga batu di sebelah kanan agak ke depan serta meletakkan tiga buah batu tepat di depan prasasti. Paling depan batu dengan ukiran lekukan lutut, kemudian batu berikutnya berupa padatala atau ukiran jejak kaki dan yang paling belakang tidak jelas ukirannya, namun diperkirakan astatala atau ukiran telapak tangan.
Setelah dua tahun dari dibuatnya prasasti, Prabu Surawisesa wafat lalu dipulasarakan di Padaren. Pajajaran selanjutnya kian mengalami kemunduran seiring berkembangnya Kesultanan Banten yang terus mendesak hingga akhirnya pada tahun 1579 Pajajaran sirna ing bumi (runtuh). Kini Prasasti Batutulis menjadi tempat wisata sejarah dan ziarah yang tidak hanya dikunjungi oleh masyarakat Bogor saja, namun berdatangan pula pengunjung dari berbagai pelosok Nusantara bahkan dari mancanegara. Jika ingin berkunjung ke situs ini, ada Ibu Maemunah atau biasa disapa Ibu Mumun (78 tahun) sebagai juru pelihara situs yang selalu siap menerima dan menjelaskan apa yang dia ketahui serta membimbing para pengunjung yang mengkhususkan diri berziarah.(*)/(Bungawari)

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s