Daun Rontal Media Tulis Tempo Dulu

Koleksi Museum Sri Baduga Maharaja-Bandung

Koleksi Museum Sri Baduga Maharaja-Bandung

“ Peso pangot ninggang lontar,

 daluang katinggang mangsi,

sugan bae katuliskeun”

Itulah ungkapan lama tradisional masyarakat Sunda yang menyiratkan cara penulisan dalam tradisi tulis menulis yang ternyata memakai bahan dan alat yang sangat berbeda dengan sekarang,  yaitu memakai péso pangot serta mangsi. Péso pangot adalah alat untuk menulis dengan cara mengeratkan ujung pisau yang tajam pada permukaan daun rontal. Sedangkan mangsi (tinta) adalah bahan cair hitam yang penggunaannya memakai kalam atau pena dengan caramencelupkan ujung kalam atau pena yang selanjutnya dituliskan pada permukaan daluang.

Penggunaan rontal dan daluang sebagai media tulis diketahui dari penemuan-penemuan naskah kuno yang mencatat kejadian bersejarah pada masa itu, ini memungkinkan kita untuk mengetahui lebih banyak tentang kehidupan di jaman dahulu. Ada 500 naskah yang ditulis di atas kertas dan daluang, serta sekitar 40 naskah lain ditulis pada daun lontar yang disimpan di Musium Nasional Jakarta dan tak terhitung yang ada di tempat lain baik yang  berada di Indonesia maupun luar negeri seperti di perpustakaan Bodlein University ( Inggris ),Australian University  dan Universiteit Bibliotheek Leiden ( Belanda ).

Lalu seperti apa sebetulnya daun lontar itu? Istilah lontar dan rontal umumnya sama. Lontar adalah bentuk metatesis dari kata rontal. Kata rontal terdiri dari dua patah kata, yaitu ron dan tal. Kata ron dan tal termasuk bahasa jawa kuno yang diperkirakan sudah ada sejak  awal abad ke-10. Ron artinya daun, dan tal artinya pohon dan diartikan menjadi daun tal (daun dari pohon tal). Kata rontal dan lontar itu sudah menjadi perbendaharaan bahasa Indonesia umum  (Suwidja, 1979:1).

Dengan demikian maka sebutan daun rontal dipakai untuk menyebut daun dari pohon lontar sebelum menjadi bahan tulis. Sedangkan setelah dipakai sebagai bahan tulis seperti tulisan pada naskah-naskah, baik naskah kuno atau naskah sebagai cinderamata yang dibuat di Bali maka ia disebut lontar. Sehingga muncul nama atau istilah yang memakai kata Pustaka Lontar  maupun  Budaya Lontar.

Daun rontal berasal dari pohon lontar (Borassus flabellifer atau palmyra ) adalah sejenis palem yang tumbuh kuat dan kokoh, dengan tinggi 15-30m, berbatang lurus dan tumbuhnya tunggal, tajuk pohon berbentuk bulat, daunnya menyerupai kipas yang membundar tepinya berlekuk-lekuk lancip. Perbungaan jantan dan betina terdapat pada pohon yang berbeda dan berbentuk tandan. Buah besar dan bulat serta berbiji tiga dan berserabut juga berair. Di samping bisa dimanfaatkan sebagai tanaman hias, pohon lontar merupakan penghasil gula yang cukup penting. Pohon lontar di pulau Jawa dan Bali lebih di kenal dengan nama Ental atau Siwalan. Sejak lama pohon lontar diketahui sebagai  pohon multiguna dan salah satu kegunaannya  adalah daunnya yang bisa digunakan sebagai media tulis sejak ratusan tahun silam, bahkan di Bali sampai sekarang daun rontal masih dipakai sebagai kelengkapan kegiatan ritual dan adat. Selain itu  sebagai bahan baku pembuatan berbagai jenis cinderamata juga untuk menulis awig-awig adat (aturan-aturan desa).

Penyebaran pohon ini adalah Nusatenggara, Bali, Jawa Timur, Aceh, Kalimantan Selatan dan Sulawesi bagian timur. Di Jawa Barat pohon ini tidak tumbuh dengan baik karena iklim dan keadaan tanah yang tidak sesuai dengan syarat tumbuh. Pohon lontar tumbuh baik di daerah savana yang beriklim kering.

Mengolah daun rontal yang baru di ambil dari pohon hingga bisa digunakan sebagai media tulis tentunya membutuhkan proses yang panjang,  karena sampai saat ini pengolahan daun rontal masih dilakukan secara tradisional. Daun rontal yang baru dipetik dari pohonnya dijemur selama dua hari sampai agak kering, semua lidi yang terdapat pada daun dihilangkan kemudian ujung daun dipotong supaya bentuk daun jadi rata.

Selanjutnya daun direndam dengan air tawar selama empat hari kemudian dikeringkan di tempat teduh dan dipotong membentuk lembaran-lembaran memanjang dengan ukuran tertentu. Untuk menghilangkan zat hijau daun,  maka harus direndam dengan air tawar selama tiga hari dan dibersihkan dengan sabutkelapa. Jika dirasa sudah bersih dari bintik-bintik dan kotoran lainnya  daun rontal kembali dijemur selama satu hari.

Supaya daun rontal tidak kaku dan warnanya gading maka daun rontal direbus kembali dengan terlebih dahulu menggulung dan mengikatnya lalu dimasukan pada air mendidih yang telah dicampur dengan gambir, kunyit warangan serta liligundi ( Vitex trifolia L ), jika air mendidih yang kedua kalinya, daun rontal diangkat dan ditiriskan lalu dijemur hingga kering. Setelah itu daun disusun helai demi helai lalu dijepit untuk dipres selama sepuluh hari, agar daun rontal tahan lama dan lentur serta tidak mudah sobek maka harus direbus kembali dengan ramuan pengawet yang terdiri dari kulit pohon kelapa, kulit pohon kopi,kulit pohon intaran serta daun papaya.

Proses terakhir adalah mencuci sampai bersih lalu dijemur di bawah sinar matahari hingga benar-benar kering dan selanjutnya dipres untuk mengencangkan permukaan daun rontal. Jika beberapa hari dirasa sudah rata dan kencang maka daun rontal siap dipakai, setelah daun-daun dipotong lagi sesuai ukuran yang diminta sehingga berupa lempir-lempir ( lembar ) dan diberi tiga lobang yaitu di ujung kiri, tengah dan ujung kanan, Jarak ujung tengah ke ujung kiri harus lebih pendek daripada ke ujung kanan, maksudnya sebagai penanda pada saat penulisan nanti.

Proses yang hampir sama ( secara tradisional ) dilakukan juga pada pembuatan kertas daluang yang berbahan baku kulit Pohon Saeh (Broussonetia papyrifera vent), yaitu pohon yang termasuk pada keluarga Moraceae  dan termasuk pada tanaman perdu dengan ketinggian dapat mencapai 12 meter.

Untuk melengkapi kertas daluang maka harus membuat tinta sebagai bahan untuk menulis, karena tinta ini dibuat oleh masyarakat Kampung Gentur, Desa Jambudipa, Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur, maka  tinta ini disebut tinta gentur. Jelaga dan beras ketan adalah bahan baku pembuatan tinta gentur, caranya adalah beras ketan digarang di atas wajan sampai menjadi arang.  Lalu arangnya disiram air panas kemudian  digodok sampai mendidih sehingga terbentuk santan arang yang berwarna hitam. Kepekatannya akan bertambah setelah bubur arang ketan tersebut dicampur jelaga yang sudah dihaluskan. Sebelum digunakan sebagai tinta, cairan berupa tinta berwarna hitam tersebut disaring dengan kain.

Proses yang sangat panjang dan tidak gampang untuk menorehkan péso pangot dan kalam pada media masing-masing, alangkah berbahagianya para perawi tempo dulu jika mereka tahu aksara dan simbol pada naskah-naskahnya dipelajari serta bahan baku juga pembuatannya dilestarikan setelah melintasi beratus-ratus tahun bahkan millennium. (*) Arief Ridwan Effendi.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s